SelebNews.id I Makassar – Ahli waris tanah Tjoddo, bersama ratusan anggota Lembaga Aliansi Indonesia, Senin (22/5) pagi, sekitar pukul 05:30 WITA, menutup paksa gerbang masuk Indogrosir di Kilometer 18, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Sulawesi Selatan. Penutupan paksa dilakukan dengan menumpahkan enam truk batu di tiga gerbang Indogrosir, sehingga menghalangi akses masuk dan keluar di lokasi tersebut. Di tiga gerbang itu, juga dibentangkan spanduk besar berupa gambar-gambar sertifikat, yang telah dijadikan dasar hukum oleh Indogrosir untuk menduduki paksa tanah di Kilometer 18 itu sejak 21 Agustus 2014.

Baca Juga: Kisah Pahit Gugatan di PTUN Makassar: Tolak Beri Uang, Ahli Waris Tanah Tjoddo Gagal Menang

Demi bisa kembali ke tanah yang telah mereka tempati sejak tahun 1910 itu, ahli waris Tjoddo pun memastikan akan berjaga siang-malam di lokasi, 24 jam sehari, bersama ratusan anggota Lembaga Aliansi Indonesia. “Tidak ada lagi kata mundur dalam aksi kali ini. Indogrosir harus angkat kaki dari tanah di Kilometer 18 ini. Sebab, sertifikat yang dipakai bertahan paksa di tanah ini berasal dari Kilometer 20,” tegas ahli waris tanah Tjoddo, Abd Jalali Dg. Nai.

Baca Juga: Indogrosir Makassar Lakukan Tindak Pidana karena Beli Tanah Hasil Kawin Paksa Dua Surat yang Direkayasa Para Mafia

Penuturan Dg. Nai itu dibenarkan Teuku Bustamam. Sekjen Lembaga Aliansi Indonesia ini, khusus datang dari Jakarta, guna memimpin langsung anggotanya, membantu Dg. Nai kembali ke tanah warisan almarhum kakeknya itu. Menurut Bustamam, sesuai pengakuan Dg. Nai saat mengadu ke Lembaga Aliansi Indonesia, ia dan keluarganya diusir paksa dari tanah di Kilometer 18 itu pada sekitar tahun 1990-an. Pelaku pengusiran adalah Keluarga Tjonra Karaeng Tola.

Baca Juga: Mantan Wakil Bupati Maros Dua Periode Terlibat Perampasan Paksa Tanah Tjoddo

Keluarga ini pula yang kemudian menjual tanah di Kilometer 18 itu kepada PT Inti Cakrawala Citra [ICC], perusahaan pemilik dan pengelola Indogrosir. Transaksi jual-beli itulah yang kini digugat Dg. Nai. Sebab, dokumen yang digunakan adalah SHGB 21970 terbitan 13 April 2016, dengan Penunjuk: SHM 490/1984 Bulurokeng dari Kilometer 20. Sebelumnya, saat mengusir paksa Dg. Nai dari tanahnya itu, Keluarga Tjonra Karaeng Tola berdalih memiliki Surat Rintjik [Simana Boetaja] Nomor 157 Persil 6 D I Kohir 51 C I, yang belakangan terbukti palsu, karena berasal dari Kilometer 17.

Baca Juga: Mantan Camat Biringkayana: Tjoddo Adalah Pemilik Sah Tanah di Kilometer

“Jadi, bangunan Indogrosir sudah berdiri di tanah yang salah. Lokasinya bukan di Kilometer 18 ini, tapi di Kilometer 20 atau di Kilometer 17,” kata Bustamam. Tekadnya membantu Dg. Nai hingga tuntas pun kian kuat, karena ahli waris tanah Tjoddo itu adalah juga anggota Lembaga Aliansi Indonesia, dengan Nomor KTA: AHU.0072219.AH.0107.

Baca Juga: Sekjen DPP Lembaga Aliansi indonesia: “Kalau Tidak Mau Pergi dari Tanah Tjoddo, Kami akan Beri Hukuman Sosial Kepada Indogrosir”

“Hukuman sosial yang kami lakukan hari ini kepada Indogrosir, akan diikuti terus perkembangannya oleh jutaan anggota Lembaga Aliansi Indonesia, yang tersebar di seluruh pelosok Tanah Air. Kalau Indogrosir tidak mau citranya jatuh, atau usahanya terganggu, akibat ulahnya menduduki paksa tanah anggota kami ini, saya sarankan: mereka segera tutup total bangunannya dan pindah dari tanah di Kilometer 18 ini,” tegas Bustamam pula.

Baca Juga: Indogrosir Makassar Terbukti Beli Tanah dari Mafia Tanah

Baca Juga: Indogrosir Makassar Diduga Gunakan Sertifikat Palsu, Ahli Waris Lahan Tuntut Haknya

Hingga pukul 08:51 WITA, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Indogrosir Makassar. Sejumlah karyawan Indogrosir terlihat hanya diam termangu di lokasi. Indogrosir yang biasanya buka pada pukul 06:30 WITA, juga belum buka hingga jam tersebut. Bisa dipastikan, Indogrosir masih akan tutup hingga siang nanti, karena ratusan mahasiswa se-Kota Makassar juga dijadwalkan akan hadir di lokasi, demi mendukung perjuangan Dg. Nai kembali ke tanah warisannya itu. (Tapanz)